Beli TV Apa Meja Makan ?

Sepasang suami istri yang masih muda dan baru saja menikah terlihat kebingungan memilih jenis dan bentuk televisi disebuah toko elektronik. Sang suami bingung memikirkan uang tersedia di kantong yang hanya cukup untuk membeli televisi ukuran 14 inch sedangkan wajah istrinya terlihat berseri-seri membayang dapat mengikuti kelanjutan sinetron yang selama ini ia nonton di rumah tetangga. Tak henti-hentinya istrinya berdecak kagum melihat berbagai kecanggihan berbagai jenis televisi yang ditawarkan pemilik toko yang dipajang di rak khusus. Pemilik toko semakin bersemangat memberikan penjelesan kelebihan yang dimiliki masing-masing televisi, matanya semakin menghijau seperti daun yang baru tumbuh dan perlahan-lahan muncul gambar tato dihelai daun tersebut bertuliskan Rp. Orang menyebut fenomena ini dengan “duidhalusination”. Sementara itu suaminya berpura-pura mencari kesibukan dengan melihat jenis barang elektronika lainnya, sementara otaknya berputar keras memikirkan perabot meja makan yang belum terbeli.

Dua jam kemudian suami-istri tersebut pulang dengan wajah ceria membawa kotak besar berisi televisi ukuran 29 inch, kecuali suaminya yang terlihat merengut sambil mengomel pelan pada istrinya agar tidak terdengar oleh tukang becak, kalo meja makan belum terbeli bisiknya kesal. “Makan khan bisa di alas tikar”, tukas istrinya. Sementara itu pemilik toko terlihat kelelahan dengan usahanya merayu hampir 2 jam lebih, keletihan, berkeringat dan kehabisan suara setelah berbicara panjang lebar. Tersenyum kecut, dalam benaknya membayang isi buku yang baru saja ia baca baru-baru ini; Kiat Sukses Meningkatkan Penjualan, sebuah buku best seller. Ya, itu adalah televisi pertama yang laku terjual dalam 2 bulan ini.

Tidak perlu diceritakan bagaimana background kondisi cerita diatas, Anda sudah tahu, sampai tukang becak bisa menyeletuk; “Minyak goreng langka dan mahal, harga barang terus naik, pengangguran semakin meningkat, busung lapar ada dimana-mana,…” Belum selesai tukang becak berceloteh, sang istri menjawab dengan gesit, ” … karena itulah kita beli teve Mas, Biar tahu semua berita!” celetuk istri sambil tersenyum lebar membayangkan acara yang ia ingin nonton sehabis ini, TransTV apa Lativi, RCTI apa SCTV, TV apa Anteve. Gejolak emosinya semakin memuncak,euphoria.

Entah bagaimana ceritanya, televisi sekarang menjadi kebutuhan utama, perabot primer disamping meja, kursi, tempat tidur dalam sebuah rumah tangga. Televisi menjadi kebutuhan yang paling mendesak dibandingkan meja makan atau tempat tidur. Bahkan terlalu banyak untuk disebutkan beberapa orang tersedak di meja makan gara-gara melihat adegan ABG berciuman dalam sebuah adegan sinetron. Televisi sangat instan dibandingkan mie gelas sekalipun, bisa ditonton sambil makan, tidur atau sambil bermain, televisi juga dapat menjadi suguhan kepada tetangga yang berkunjung, bahkan televisi dapat menjadi bahan gunjingan tetengga, bagaimana tidak, ada tetangga beli televisi ukuran 51 inch dari hasil korupsi!

Acara televisi dianggap sebagai media informasi; pendidikan, budaya, entertainment ampe informasi selangkangan! Beberapa televisi berlomba-lomba melakukan investigasi aktivitas syahwat di dalam kehidupan masyarakat, dibungkus dalam bentuk infotainment, gambar-gambar yang menampilkan adegan mesum dicoba diekspos dengan kamera. Liputan ini dikemas dalam bentuk “Seputar selangkangan” yang dapat Anda tonton pada acara Fenomena (Transtv), Lepas Malam (Lativi), dan Malem-malem (SCTV). Lihat saja hampir setiap hari siang kita melihat berita para pelacur berlari-lari dikejar satpol PP, atau ampe acara penari striptease di klub-klub malam ibukota yang dikemas dalam segmen gaya hidup (TV7). Pemirsa pun menahan gejolak emosinya yang semakin memuncak,ejaculation.

Celana Dalam. Salah seorang artis bintang tamu dalam acara Empat Mata di TV7

Cerita Tengah Malam. Salah adegan dalam sinetron tengah maleman di Lativi yang telah dihentikan penyiarannya

Pembentukan opini tersendiri dengan mengungkapkan kehidupan seks yang dari pengalaman pribadi menjadi infomurahan, tidak berintelektual bahkan lebih menjurus pada pornografi dibandingkan informasi yang disampaikan. Sebaiknya acara seperti ini dihentikan dari sekarang, karena sangat merusak persepsi orang terhadap seks itu sendiri, akal dan pikiran positif, lembaga perkawinan dan budaya bangsa Indonesia demikian kata orang-orang yang berintelektual. Kalo udah bicara budaya, seharusnya bikin dikit malu, gimana tidak? Masa budayawan kita hanya bisa menciptakan budaya buah dada sebagai sebuah buah karya.

Pendidikan seks adalah hal yang penting yang perlu diketahui oleh masyarakat, tetapi pihak televisi dapat membuat acara tersebut lebih ilmiah dalam bentuk dialog, hasil penelitian, bedah buku dan sebagainya. Jadi, permasalahan tersebut dibahasa oleh orang-orang yang berkompeten dibidangnya. Tukul pun jadi presenter idola kalo udah bahas seputar paha dan dada ampe ke ranjang bergoyang. Padahal abang becak pun gak kalah jagonya soal genjot-menggenjot lho!

Entah bagaimana pula pornografi mempunyai kaitannya dengan politik, tapi sungguh menarik untuk dikupas, dikupas seperti jeruk biar asam kulitnya pun tetap bernama jeruk, dengan kata lain selangkangan adalah sama dengan pornografi. Katanya seks memberikan ketenangan, huru-hara politik sejak tahun 1998 membuka peluang terbukanya kapitalisme pornografi, beberapa media masa mulai mengumbar hawa panas, ironisnya pemerintah diam saja. Katanya seeh terlalu sibuk ngeberesin urusan negara, termasuk membersihkan sampah di gedung DPR yang sempat menjadi arena camping mahasiswa… sampai sekarang! Nah, untuk meredam massa, mengurangi kerusuhan maka dibiarkanlah masyarakat untuk dapat menikmati kebebasan syahwat ini asal gak neko-neko (ga bugil di depan umum)

Kalau kita mijit remote TV dari 1 sampai 11, emang lumayan banyak jumlah televisi yang ada di Indonesia, kita bisa urutkan Anteve, Indosiar, TPI, SCTV, RCTI, Metro TV, TVRI, Global TV, Lativi, Transtv, dan TV7. Mungkin sepadan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 200 juta lebih, jadi bisa dibayangkan bila televisi menjadi kebutuhan utama berapa jumlah televisi yang laku dipasaran?

Dulu saya pernah tertipu membeli sebuah buku yang berjudul Kapitalisme Televisi, pengarangnya … ga enak saya sebutkan disini, ntar malah bukunya ga laku, saya pikir buku itu mengupas bagaimana dunia pertelevisian telah menjajah pemikiran generasi muda, mengubah lifestyle dengan sebutan trends postmodernisme, atau barangkali menceritakan dampak televisi bagi perkembangan anak. Saya kecile, isi bukunya ga lain menjual apa yang telah ditayang oleh beberapa televisi, iklan, film barat ampe sinetron yang pernah bikin heboh ibu-ibu sampai menangis atau menahan geram di depan televisi dikupas seperti teledrama. Buku itu seperti sampah hasil daur ulang berkemasan emas tapi isinya ga lebih junk food yang dipolesin trend kagak beli kagak gaul!

Nah kalo bicara sinetron di Indonesia, barangkali kita harus belajar kata muak, geli, menjijikan atau entah apa ―seperti sesuatu yang bergejolak di perut ingin dikeluarkan boleh lewat mulut atau lewat anus. Hampir semua sinetron menjual kemewahan, cinta murahan, atau mencoba mendobrak tradisi dan moralitas yang semakin surut; anak melawan orang tuanya adalah hal biasa, berciuman adalah hal lumrah, seks bebas adalah pergaulan modern, semuanya berpacu untuk mencapai ejekulasi dini.

Ada sinetron yang menjual mistik, lihat saja Indosiar yang lagi getol nyiarin Pak Haji melawan siluman buaya, atau lihat saja acara SCTV yang mengajak anak muda-muda untuk berzina di depan televisi dengan acara-acaranya seperti Kontak Jodoh, Backstreet dan berbagai bentuk acara (baca: zina) lainnya yang ngekor dari kakaknya RCTI Katakan Cinta. Atau bayangin aja ada sinetron masih SD udah pacaran dan naksir pola ama supir pribadinya. Edan! Ada juga pada awal berdirinya televisi pendidikan berubah haluan menjadi televisi dangdut biar banyak sponsor.

Inikah contoh kapitalisme televisi tersebut yang dimaksud oleh buku itu? Acara makan keluarga lamban laun akan tergeser, meja makan yang pindah ke rungan TV atau TV yang di angkut ke ruang makan? Mungkin pembuat iklan juga ada pinternya untuk mengembalikan tradisi lama, makan adalah tetap makan, bukan nonton. Lihat saja beberapa iklan yang terlihat jorok, bersin ya digambarin orang bersin, ingus bertebaran, diare ya ga jauh dekat dengan WC, atau iklan penyakit kudis, maka ga jauh dari tayangan dari bentuknya. Kurap di kaki ya harus ditunjukkin, soalnya.. kata si pembuat iklan, masyarakat Indonesia masih sulit menangkap maksud iklan bila dibikin terlalu rumit, jadi… ya biar mereka makan di ruang makan tidak di depan Tv katanya. Hebat!

Atau… Lihat saja bagaimana masyarakat menyukai opera sabun OB TV yang ditawarkan oleh RCTI pada jam suka-suka, maksud saya gimana maunya tukang TV nyiarin, suka-suka dia kapan mau di ulang berkali-kali, pindah jam tayang, ya terserah dia aja, dia yang punya stasiun TV. Jaman feodal masih terlihat atau emang budaya bangsa kita yang masih hidup di jaman sekarang ini? Pemalakan, otoriter, kebodohan yang menjadi guyonan atau tontonan yang menghibur?

Nah, kembali lagi ke keluarga yang baru beli TV 29 di awal cerita tadi… Nah, denger-denger tuh keluarga jadi ribut muluk gara-gara rebutan remote control TV, Nah lhoo!

About Kang Agus

Curhat sang pelaut..kalau ada yang mau curhat cara masuk ke kapal pesiar silahkan komen di artikel yang berkaitan mohon maaf kalau gak langsung di jawab berhubung sibuk melaut..saya akan coba usahakan jawab
This entry was posted in Artikel celoteh and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s